So-orang santriwati 7 Hari Hilang Kemenag Tubaba Soroti Pengawasan Ponpes

oleh -214 Dilihat

Tulang Bawang Barat-triposindonesia.com

Se-orang santriwati berinisial DCP selama
7 hari hilang dari asrama putri Pondok Pesantren Darurrohman Mulya Kencana kecamatan tulang bawang tengah Kabupaten Tulangbawang Barat provinsi lampung masih menyisakan tanda tanya

Hingga kini penyebab pasti hilangnya santri tersebut diketahui kedua orang tuanya tidak berada di lingkungan pondok selama lebih dari sepekan belum diketahui secara jelas

Kantor Kementerian Agama (Kemenag) kabupaten setempat mengaku belum menerima laporan resmi baik pihak pondok pesantren maupun keluarga santri terkait kejadian hilangnya santri tersebut meski demikian Kemenag memastikan akan segera menelusuri informasi yang beredar.

Ichwani, Staf Seksi Pendidikan Kemenag kabupaten Tubaba mewakili Kepala Kantor Kemenag Tubaba, menyampaikan bahwa pihaknya baru mengetahui persoalan tersebut dari pemberitaan media.

“Sejauh ini kami belum mendapatkan informasi itu baik dari ponpes maupun wali murid. Nanti informasi yang kami terima ini akan kami tindak lanjuti ke pondok yang bersangkutan untuk meminta kejelasan,” ujarnya Kamis (23/04/2026).

Ia menegaskan, pihaknya juga akan mencari tahu bagaimana santriwati tersebut bisa meninggalkan lingkungan pondok tanpa diketahui pengelola.

“Kita akan tanyakan apa penyebab santriwati tersebut bisa keluar. Karena ini menyangkut santri dan pondok, penyelesaiannya pun harus di sana melalui mekanisme yang ada,” katanya.

Menurut Ichwani, apabila nantinya ditemukan adanya kelalaian, maka Kemenag akan memberikan pembinaan kepada pihak pesantren.

“Kalau ada kesalahan tentu akan kita berikan pembinaan. Kita juga belum tahu apa yang sebenarnya masalah yang terjadi di ponpes itu,” imbuhnya.

Sementara itu, keterangan berbeda justru datang dari pihak pengelola Pondok Pesantren Darurrohman. Hendri Bahrul, yang disebut sebagai penanggung jawab pondok, awalnya mengaku belum mengetahui adanya kejadian tersebut saat dikonfirmasi media.

“Saya belum tahu, nanti saya cek dulu di pondok, nanti saya infokan kembali,” ujarnya singkat melalui sambungan telepon, Selasa (21/4/2026).

Namun beberapa jam kemudian, Bahrul kembali menghubungi media dan menyatakan bahwa DCP telah berada di rumah orang tuanya.

“Alhamdulillah anaknya sudah di rumah orang tuanya,” katanya singkat sebelum menutup komunikasi tanpa menjelaskan kronologi lebih lanjut.

Perubahan pernyataan dalam waktu singkat itu memunculkan pertanyaan publik terkait transparansi informasi serta sistem pengawasan di lingkungan pondok pesantren.

Kasus ini mencuat setelah seorang siswi kelas XI Madrasah Aliyah di pondok tersebut dilaporkan tidak berada di asrama selama sekitar satu pekan. Informasi yang dihimpun media pada Senin (20/4/2026), DCP diketahui sudah tidak berada di lingkungan pondok sejak beberapa hari sebelumnya.

Menurut keterangan keluarga, ibu kandung DCP berinisial RY menerima informasi awal dari wali kelas anaknya, Anwar Sahid, pada Sabtu (11/4/2026),

“wali kelasnya yang memberi tahu bahwa putri kami tidak berada di pondok Karena khawatir kemudian pihak keluarga melaporkan kejadian itu pada Jumat (17/4/2026).

ditempat terpisah Saat awak media berupaya melakukan komfirmasi teehadap pengurus pendok disebut tidak berada di tempat.

“Bapak lagi jalan ke Dayamurni, Mas. Ada urusan, mungkin habis Ashar dia pulang,” ujar seorang perempuan yang mengaku sebagai istri petugas keamanan pondok, Senin (20/4/2026).

Di tengah polemik itu, sejumlah sumber dari kalangan pesantren menyebut pengawasan santri seharusnya dilakukan secara ketat selama 24 jam, termasuk memastikan tidak ada santri keluar tanpa izin resmi

“Aneh aja Kok bisa santriwati hilang sudah
7 hari dari asrama santri dimana letak tanggung jawab mereka ini paktor lemahnya pengawasan dan manajemen di lingkungan pondok pesantren.

Di beritakan :sebelumnya Satu santriwati di Tubaba 7 hari Hilang belum ditemukan orang tua cemas lapor polisi

Se-orang santriwati dibawah umur berinisial DCP hilang dari Pondok Pesantren Darurrahman Mulya Kencana Kecamatan Tulang bawang Tengah Kabupaten Tulang bawang Barat provinsi lampung sudah 7 hari belum juga ditemukan kedua orangtua makin cemas lapor ke polisi

Santri tersebut Sudah sepekan DCP tidak diketahui keberadaannya. Informasi
yang dihimpun pada Senin (20/4/2026) menyebutkan, siswi tersebut diduga tidak lagi berada di lingkungan pondok sejak pertengahan April 2026.

Ibu kandung DCP, RY, mengungkapkan bahwa keluarga pertama kali menerima kabar hilangnya sang anak dari wali kelasnya, Anwar Sahid, pada Sabtu (11/4/2026). Sejak saat itu, kecemasan tak henti menghantui.

“Pada Jumat (17/4/2026), kami sudah melaporkan bahwa anak kami tidak ada di asrama. Sampai sekarang belum ada kejelasan keberadaannya,” ujar RY dengan nada cemas.

Upaya konfirmasi kepada pihak pondok pesantren belum membuahkan hasil. Saat didatangi, seorang perempuan yang mengaku sebagai istri petugas keamanan menyampaikan bahwa pengurus pondok sedang tidak berada di tempat.

“Bapak lagi ke Dayamurni, Mas. Ada urusan, mungkin habis Ashar dia pulang,” ujarnya singkat. Ketiadaan informasi yang pasti membuat kegelisahan keluarga kian memuncak.

Mereka kini mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum dengan melaporkan peristiwa ini ke pihak kepolisian, sebagai upaya mencari kejelasan dan pertanggungjawaban.

Sementara itu, Hendri Bahrul yang diduga sebagai penanggung jawab pondok pesantren belum memberikan tanggapan saat dihubungi melalui telepon seluler.

Di sisi lain, sejumlah pengurus pondok pesantren di wilayah Tubaba menjelaskan bahwa lembaga pendidikan berbasis asrama pada umumnya menerapkan pengawasan ketat terhadap santri.

Setiap aktivitas harian—mulai dari bangun tidur, ibadah berjamaah, kegiatan belajar, hingga waktu istirahat—seharusnya berada dalam pemantauan langsung pengurus.

“Santri wajib berada di asrama sesuai waktu yang ditentukan dan tidak diperkenankan keluar tanpa izin resmi. Pengawasan dilakukan dari bangun hingga kembali beristirahat,” ujar salah satu pengurus yang enggan disebutkan namanya.

Sistem tersebut, kata dia, diterapkan demi menjaga keamanan, kedisiplinan, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif. Namun, dalam kasus ini, tanda tanya besar justru muncul: bagaimana seorang siswi bisa hilang tanpa jejak dari lingkungan yang semestinya terjaga?

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Pondok Pesantren Darurrahman terkait hilangnya DCP, termasuk penjelasan mengenai sistem pengawasan santri di lingkungan tersebut.

Bagi keluarga, waktu terus berjalan tanpa kepastian. Harapan sederhana mereka kini hanya satu—DCP segera ditemukan dalam keadaan selamat.

Hingga berita ini diterbitkan kembali, pihak Pondok Pesantren Darurrohman Mulya Kencana belum memberikan penjelasan rinci terkait kronologi lengkap kejadian maupun langkah evaluasi pasca peristiwa tersebut.
(Pn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.